Pages

Senin, 20 Desember 2010

Banyak Anak Putus Sekolah Karena Ingin Bantu Orang Tua

Banyak anak usia wajib belajar yang putus sekolah karena harus bekerja. Kondisi itu harus menjadi perhatian pemerintah karena anak usia wajib belajar mesti menyelesaikan pendidikan SD-SMP tanpa hambatan, termasuk persoalan biaya. Karena itu, bagi anak-anak miskin, Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja belum cukup. Pemerintah dan sekolah juga mesti memikirkan pemberian beasiswa tambahan untuk pembelian seragam dan alat tulis, serta biaya transportasi dari rumah ke sekolah agar anak-anak usia wajib belajar tidak terbebani dengan biaya pendidikan.

Solusi dalam menyikapi konflik diatas:

Sudah bukan hal baru lagi ketika kita mendengar kemiskinan menjadi suatu polemik yang selalu menghantui masyarakat ekonomi kelas bawah. Pendidikan yang seharusnya dikenyam seluruh lapisan masyarakat, khususnya di usia anak-anak, harus terbengkalai tak terurus begitu saja dikarenakan himpitan ekonomi yang menyelimutinya. Seperti uraian permasalahan tercantum diatas, tak seharusnya pula kita berhenti untuk berfikir bagaimana agar sekiranya konflik semacam itu dapat dihindari atau paling tidak dapat diminimalisir seoptimal mungkin.

Seorang anak seolah merasa terpaksa membantu orangtuanya dengan bekerja turut mencari penghasilan tambahan, namun karena desakan berbagai faktor, seperti waktu, rasa lelah seusai bekerja, tidak terfokusnya pikiran, ataupun hubungan sosial dengan temannya, jelas secara perlahan hal tersebut akan menyebabkan si anak mengeluarkan keputusan untuk berhenti sekolah. Sangat disayangkan memang, ibarat melakukan pengorbanan untuk dapat meraih sepeser uang dengan cara membayarnya dengan pendidikan, yang notabene nilai pendidikan ialah jelas jauh punya nilai guna dikemudian hari kelak. Bahkan cukup ironi jika ada orangtua dari keluarga ekonomi kurang mampu yang sampai beranggapan bahwa bersekolah dikatakan hanya akan menambah pengeluaran dari pengahasilan yang telah didapatnya.

Pemerintah pun sebagai wahana dalam memberikan pelayanan dirasa belum efektif dalam mengayomi masyarakatnya. Program-program pemerintah yang ditujukan kepada sekolah dasar sampai sekolah menengah, seperti Bantuan Operasional Sekolah (BOS) ataupun Dana program kompensasi pengurangan subsidi (PKPS) BBM untuk pendidikan faktanya belum cukup untuk mensiasati permasalah ini. Karena permasalahan akan sekolah tidak bisa berhenti hanya dengan pembayaran iuran SPP saja, tapi juga perlu diperhatikan permasalahan lain yang cukup berpengaruh terhadap sisi psikologis anak misalnya masalah pembelian buku pelajaran, biaya transportasi, biaya seragam sekolah dan juga tak ketinggalan status sosial anak dimata anak-anak yang mungkin lebih mampu yang disinyalir sebagai penyebab munculnya rasa malas dating ke sekolah yang ujungnya ialah berhenti bersekolah.

Kini menjadi tugas urgen bagi Pemerintah maupun orangtua untuk sekiranya dapat berfikir mengeluarkan inisiatif demi mengatasi konflik semacam ini, orangtua sebagai orang terdekat dengan anak sudah seharusnya berfikir jernih untuk dapat memberikan pengarahan yang lebih tepat bagi anak-anaknya, orangtua harus menyadari bahwa si anak haruslah diberikan haknya untuk memperoleh pendidikan, memberikan pengarahan agar anak meyakini bahwa pendidikan merupakan bekal penting dalam menjalani kehidupan dan orangtua pun, khususnya ayah, harus menyadari bahwa menafkahkan keluarga itu sudah merupakan kewajibannya.
Berbicara seorang ayah atau orangtua yang menganggur, dalam hal ini jelas perlu adanya turun tangan pemerintah untuk memberikan perhatian penuh akan problem ini. Pemerintah haruslah secara intensif dan gencar-gencarnya untuk terus memberikan penyuluhan pengajaran keterampilan bagi masyarakat pengangguran, untuk kemudian memberikan modal yang sepantasnya demi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat tak mampu. Sehingga jika memang orangtua sudah merasa cukup dengan ekonominya, sudah barang tentu si anak akan di sekolahkan sesuai tuntutan yang berlaku.

Bagitu pula halnya, dengan sikap golongan-golongan masyarakat ekonomi sangat mampu, sungguh sangat diharapkan timbulnya rasa humanisme atau kepedulian sosial terhadap masyarakat miskin yang ada. Jujur saja sangatlah lucu ketika jurang antara si Kaya dan si Miskin masih sangat curam, disatu sisi si Miskin yang untuk mengenyam pendidikan dasarpun harus terhalang karena himpitan ekonomi, sedangkan di sisi lain sebagian oknum dari pihak si Kaya masih seolah tidak melihat masyarakat kelas bawah yang ada dihadapnnya. Lebih lanjut, memang perlu adanya kesadaran terhadap pribadi-pribadi jiwa manusia untuk menumbuhkan rasa keadilan. Dalam hal kehidupan beragama, Islam pun sebenarnya sangat menekankan pengaturan distribusi ekonomi yang adil agar ketimpangan di dalam masyarakat dapat dihilangkan.

Referensi:
http://edukasi.kompas.com/read/2009/06/15/09565344/Awalnya.Bantu.Orangtua..Lama.lama.Terjebak…

Konflik Antara Leader dengan Bawahannya di dalam Perusahaan

Perusahaan manapun pasti pernah mengalami konflik internal. Mulai dari tingkat individu, kelompok, sampai unit. Mulai dari derajat dan lingkup konflik yang kecil sampai yang besar. Yang relatif kecil seperti masalah adu mulut tentang pribadi antarkaryawan, sampai yang relatif besar seperti beda pandangan tentang strategi bisnis di kalangan manajemen. Contoh lainnya dari konflik yang relatif besar yakni antara karyawan dan manajemen. Secara kasat mata kita bisa ikuti berita sehari-hari di berbagai media. Disitu tampak konflik dalam bentuk demonstrasi dan pemogokan. Apakah hal itu karena tuntutan besarnya kompensasi, kesejahteraan, keadilan promosi karir, ataukah karena tuntutan hak asasi manusia karyawan.

Disini saya mengambil satu contoh konflik didalam perusahaan antara seorang Leader dengan bawahannya.

Bayangkan adegan ini, tiba-tiba salah satu bawahan menemui Leadernya (pemimpin) dan mengungkapkan kekecewaannya. Dengan penuh emosi, karyawan tersebut mengeluhkan rekan kerjanya dan perseteruan yang sedang ia hadapi. Ia minta pemimpin tersebut untuk segera mengambil tindakan.

Wajar jika di kantor terjadi konflik. Bekerja di lingkungan yang kadang penuh persaingan, dengan berbagai karakter dan latar belakang yang berbeda, membuat perbedaan pendapat, perselisihan dan ketidakpuasan sangat mungkin terjadi Jika sebuah konflik mengganggu kinerja karyawan dan tim, maka seorang pemimpin lah yang diharapkan bisa mengatasi konflik tersebut. Dan ingatlah, cara pemimpin mengatasi konflik tersebut akan mempengaruhi kepemimpinnya di mata karyawan.

Berikut adalah langkah yang dapat diambil untuk mengatasi konflik antar karyawan.
1. Dengarkan kedua belah pihak.
Untuk memberikan solusi yang tepat, pemimpin harus tahu persoalan dari berbagai sisi. Dengarkan versi masalah dari tiap karyawan yang terlibat. Membiarkan mereka mengeluarkan pendapat dan perasaan, membantu menenangkan mereka agar lebih siap untuk berkompromi dan negosiasi.
2. Tunjukkan empati kepada kedua belah pihak.
Tunjukkan bahwa pemimipin mengerti situasi yang sedang terjadi. Hal ini tidak berarti harus setuju dengan pendapat karyawan, tapi harus mengerti maslah duduk persoalan.
3. Fokus pada masalah, bukan pada pribadi yang bermasalah.
Ingatkan dan jaga agar mereka tetap fokus pada masalah yang sedang dihadapi pada saat ini, tanpa mengaitkan masalah dengan hal-hal yang tidak relevan. Hal ini juga berlaku untuk seorang pemimpin.
4. Tanyakan pendapat mereka.
Tanyakan apa menurut mereka yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Apakah mereka bersedia untuk mendiskusikan masalah mereka? Apakah mereka bersedia untuk melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain? Apa solusi yang diusulkan dari masing-masing pihak?
5. Be a good sheperd.
Tuntun tiap pihak untuk mendapatkan consensus akan konflik mereka. Yakinkan mereka bahwa negosiasi dan kompromi adalah hal yang harus dilakukan untuk mendapatkan win-win solution.
6. Buat keputusan.
Setelah solusi didapat, buatlah keputusan yang jelas dan tegas, lalu tetap monitor situasi dan perkembangan pasca konflik.

Seperti yang telah disebutkan di awal, konflik di kantor adalah hal yang wajar. Namun, sangat penting untuk mengatasinya dengan efektif karena konflik bisa berdampak bagi kinerja tim secara keseluruhan. Konflik berkepanjangan bisa berdampak negatif bagi hubungan antar karyawan dan suasana kerja.

Jika dilihat dari sudut pandang etika bisnis, konflik tersebut jelas akan sangat merugikan perusahaan, karena jika konflik tersebut tidak dapat segera diselesaikan maka akan berdampak negatif bagi hubungan antar karyawan, dan suasana kerja pun menjadi kurang kondusif, sehingga berdampak buruk bagi kinerja karyawan, selain itu produktifitas karyawan pun akan semakin menurun, dan para karyawan pun akan semakin mudah mengalami tekanan. Kondisi ini jelas akan sangat merugikan perusahaan, karena jika kondisi tersebut terus berkelanjutan bukan tersebut perusahaan tersebut akan hancur



Referensi :
http://f1d3ly4.wordpress.com/2009/01/15/leaders-atasi-konflik-karyawan-anda-dengan-bijaksana/
http://ronawajah.wordpress.com/2007/06/07/konflik-dalam-perusahaan/

Selasa, 23 November 2010

CSR dan TBL

CSR berakar dari etika dan prinsip-prinsip yang berlaku di Perusahaan dan dimasyarakat. Etika yang dianut merupakan bagian dari budaya (corporate culture); dan etika yang dianut masyarakat merupakan bagian dari budaya masyarakat. Prisnsip-prinsip atau azas yang berlaku di masyarakat juga termasuk berbagai peraturan dan regulasi pemerintah sebagai bagian dari sistem ketatanegaraan.
Menurut Jones (2001) seseorang atau lembaga dapat dinilai membuat keputusan atau bertindak etis bila:

1. Keputusan atau tindakan dilakukan berdasarkan nilai atau standar yang diterima dan berlaku pada lingkungan organisasi yang bersangkutan.
2. Bersedia mengkomunikasikan keputusan tersebut kepada seluruh pihak yang terkait.
3. Yakin orang lain akan setuju dengan keputusan tersebut atau keputusan tersebut mungkin diterima dengan alasan etis.
    Suatu perusahaan seharusnya tidak hanya mengeruk keuntungan sebanyak mungkin, tetapi juga mempunyai etika dalam bertindak menggunakan sumberdaya manusia dan lingkungan guna turut mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Pengukuran kinerja yang semata dicermati dari komponen keuangan dan keuntungan (finance) tidak akan mampu membesarkan dan melestarikan , karena seringkali berhadapan dengan konflik pekerja, konflik dengan masyarakat sekitar dan semakin jauh dari prinsip pengelolaan lingkungan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.

    Sebagai sebuah inovasi sosial baru dalam kehidupan bersama antara perusahaan dengan masyarakat, pemahaman tentang CSR oleh masyarakat perlu ditingkatkan, termasuk masyarakat kampus. Bagaimana masyarakat kampus akan memberikan inovasi dan berkontribusi bagi implementasi CSR untuk mengatasi kemiskinan dan meningkatkan kualitas SDM bila masyarakat kampus belum memiliki pemahaman yang memadai tentang CSR dan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam implementasi CSR. Pada hal CSR memiliki potensi besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan secara akademik akan berkembang menjadi sebuah trans-disiplin yang menggabungkan antara aspek-aspek ilmiah dengan aspek-aspek praktis di masyarakat. 

    John Elkington (1997) sebagai seorang akademisi, merumuskan Triple Bottom Line (TBL) atau tiga faktor utama operasi perusahaan dalam kaitannya dengan lingkungan dan manusia, yaitu :
    1) Faktor manusia dan masyarakat (people)
    2) Faktor ekonomi dan keuntungan (profit),
    3) Faktor lingkungan (Planet). 

    Ketiga faktor ini juga terkenal dengan sebutan triple-P (3P) yaitu people, profit and planet. Ketiga faktor ini berkaitan satu sama lain. Masyarakat tergantung pada ekonomi; ekonomi dan keuntungan perusahaan tergantung pada masyarakat dan lingkungan, bahkan ekosistem global. Ketiga komponen TBL ini bersifat dinamis tergantung kondisi dan tekanan sosial, politik, ekonomi dan lingkungan, serta kemungkinan konflik kepentingan.

    TBL digunakan sebagai kerangka atau formula untuk mengukur dan menlaporkan kinerja perusahaan mencakup parameter-parameter ekonomi, sosial dan lingkungan dengan memperhatikan kebutuhan stakeholdes (konsumen, pekerja, mitra bisnis, pemerintah, masyarakat lokal dan masyarakata luas) dan shareholders, guna meminimalkan gangguan atau kerusakan pada manusia dan lingkungan dari berbagai aktifitas perusahaan. 

    TBL bukan skedar laporan kinerja tetapi juga sebagai suatu pendekatan untuk memperbaiki pengambilan keputusan tentang kebijakan dan program ke arah yang lebih baik dengan mempertimbangkan aspek ekonomi, lingkungan dan masyarakat sekaligus. Penerapan konsep TBL ini berkembang pesat oleh – di Amerika, Kanada, Eropa dan Australia. Berbagai di Indonesia juga mulai menerapkannnya. 

    Prinsip TBL secara legal sudah lama dianut pemerintah Indonesia, sejak negara Indonesia berdiri, seperti tercantum dalam pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan diperuntukkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya merupakan komponen planet atau lingkungan dari konsep TBL. Kemakmuran merupakan komponen profit atau ekonomi dari konsep TBL. Rakyat merupakan komponen people atau masyarakat dari konsel TBL. Hal ini berarti pengelolaan sumberdaya alam Indonesia seharusnya ditujukan untuk peningkatan kualitas manusia dan lingkungannnya (kemakmuran rakyat)

    Berdasarkan konsep TBL tersebut seharusnya konsep dan implementasi CSR mencakup aspek ekonomi, lingkungan dan sosial dalam peningkatan kualitas hidup pekerja beserta keluarganya serta masyarakat, termasuk konsumen. Dalam perjalanannya, implementasi CSR kadangkala mengalami pembiasan dari nilai-nilai CSR yang “asli”. Pembiasan itu tampak manakala perusahaan hanya melakaukan kegiatan bantuan atau charity atau “pemadam konflik sementara“ kepada masyarakat yang kemudian dianggap sebagai program CSR. Pada hal CSR ideal tidak sekedar sebagai program bantuan untuk menghindari tekanan dari pihak lain, misalnya tekanan masyarakat ataupun sebagai alat kehumasan untuk membentuk citra baik, melainkan merupakan kegiatan pemberdayaan yang berkesinambungan ke arah yang lebih baik. 

    CSR yang dilakukan oleh – di Indonesia akan berbeda satu sama lain tergantung pada konteks masalah yang dihadapi masyarakat. Perbedaan konteks ini juga akan berimplikasi kepada perbedaan strategi pendekatan yang dilakukan oleh masing-masing. Keberadaan CSR di suatu daerah juga tidak pernah terlepas dari sistem kemitraan kelembagaan yang ada di sekitarnya. Pemerintah, lembaga adat, LSM, dan lembaga sosial masyarakat lainnya juga turut memberikan warna terhadap kegiatan CSR. Keberadaan stakeholder ini bisa hadir sebagai penunjang keberhasilan CSR ataupun sebaliknya, jika proses sinergi di antara para pelaku tersebut tidak dilakukan. (Oleh: Prof. Dr. Hardinsyah, MS)


    Referensi :
    http://fema.ipb.ac.id/index.php/lingkungan-masyarakat-dan-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-csr/

    Senin, 22 November 2010

    Tanggung Jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR)

    Sejarah Singkat CSR

    Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya (namun bukan hanya) perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan. Intinya, CSR adalah operasi bisnis yang berkomitmen tidak hanya untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara finansial, tetapi untuk pembangunan sosial-ekonomi kawasan secara holistik, melembaga, dan berkelanjutan.
    Dalam konteks global, istilah CSR mulai digunakan sejak tahun 1970-an dan semakin populer terutama setelah kehadiran buku Cannibals with Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business (1998) karya John Elkington. Mengembangkan tiga komponen penting sustainable development, yakni economic growth, environmental protection, dan social equity yang digagas the World Commission on Environment and Development (WCED) dalam Brundtland Report (1987), Elkington mengemas CSR ke dalam tiga fokus: 3P (profit, planet, dan people). Perusahaan yang baik tidak hanya memburu keuntungan ekonomi belaka (profit), tetapi memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan kesejahteraan masyarakat (people).
    Di Indonesia, istilah CSR semakin populer digunakan sejak tahun 1990-an. Beberapa perusahaan sebenarnya telah lama melakukan CSA (corporate social activity) atau aktivitas sosial perusahaan. Walaupun tidak menamainya sebagai CSR, secara faktual aksinya mendekati konsep CSR yang merepresentasikan bentuk “peran serta” dan “kepedulian” perusahaan terhadap aspek sosial dan lingkungan.

    Bias-bias CSR

    Berdasarkan pengamatan terhadap praktik CSR selama ini, tidak semua perusahaan mampu menjalankan CSR sesuai filosofi dan konsep CSR yang sejati. Tidak sedikit perusahaan yang terjebak oleh bias-bias CSR berikut ini.

    1. Kamuflase. CSR yang dilakukan perusahaan tidak didasari oleh komitmen genuine, tetapi hanya untuk menutupi praktik bisnis yang memunculkan ethical questions.
    2. Generik. Program CSR terlalu umum dan kurang fokus karena dikembangkan berdasarkan template atau program CSR yang telah dilakukan pihak lain
    3. Directive. Kebijakan dan program CSR dirumuskan secara top-down dan hanya berdasarkan misi dan kepentingan perusahaan (shareholders) semata. Program CSR tidak partisipatif sesuai prinsip stakeholders engagement yang benar.
    4. Lip service. CSR tidak menjadi bagian dari strategi dan kebijakan perusahaan. Biasanya, program CSR tidak didahului oleh needs assessment dan hanya diberikan berdasarkan belas kasihan (karitatif).
    5. Kiss and run. Program CSR bersifat ad hoc dan tidak berkelanjutan. Masyarakat diberi “ciuman” berupa barang, pelayanan atau pelatihan, lantas ditinggalkan begitu saja. Program yang dikembangkan umumnya bersifat myopic, berjangka pendek, dan tidak memerhatikan makna pemberdayaan dan investasi sosial.

    CSR yang baik

    CSR yang baik (good CSR) memadukan empat prinsip good corporate governance, yakni :
    •  Fairness
    • Transparency
    • Accountability
    • Responsibility

    Ada perbedaan mendasar di antara keempat prinsip tersebut (Supomo, 2004). Tiga prinsip pertama cenderung bersifat shareholders-driven karena lebih memerhatikan kepentingan pemegang saham perusahaan. Sebagai contoh, fairness bisa berupa perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas; transparency menunjuk pada penyajian laporan keuangan yang akurat dan tepat waktu; sedangkan accountability diwujudkan dalam bentuk fungsi dan kewenangan RUPS, komisaris, dan direksi yang harus dipertanggung jawabkan.
    Sementara itu, prinsip responsibility lebih mencerminkan stakeholders-driven karena lebih mengutamakan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan. Stakeholders perusahaan bisa mencakup karyawan beserta keluarganya, pelanggan, pemasok, komunitas setempat, dan masyarakat luas, termasuk pemerintah selaku regulator. Namun demikian, prinsip good corporate governance jangan diartikan secara sempit. Artinya, tidak sekadar mengedepankan kredo beneficience (do good principle), melainkan pula nonmaleficience (do no-harm principle) (Nugroho, 2006).
    Perusahaan yang sudah menerapkan CSR
    Hasil merger bagi Bank CIMB Niaga yang langsung dapat dirasakan adalah semakin dikenalnya Bank CIMB Niaga di tengah kehidupan masyarakat luas. Dengan keberadaannya yang kini semakin diketahui oleh masyarakat luas, maka komitmen Bank terhadap kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) juga semakin dalam dan dengan cakupan yang lebih luas.
    Oleh karena itu, di tahun 2009 Bank CIMB Niaga terus menambah rangkaian program sosial dan bantuannya kepada masyarakat. Fokus utama dari inisiatif-inisiatif ini tetap pada pendidikan. Bank CIMB Niaga sangat berkeyakinan bahwa meningkatkan kualitas pendidikan di seluruh tingkatan, dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, adalah kunci untuk mewujudkan seluruh potensi yang ada pada bangsa Indonesia.
    Secara bersamaan, Bank CIMB Niaga tetap memberikan dukungan bagi kelompok masyarakat yang kurang beruntung dalam hal kesehatan, infrastruktur dasar dan kesejahteraan sosial. Bank CIMB
    Niaga bersama mitra strategisnya juga memberikan bantuan yang dibutuhkan terutama bagi anggota masyarakat yang menderita akibat bencana alam.
    Seluruh kegiatan CSR yang mendapat dukungan penuh dari Bank CIMB Niaga dijelaskan pada bagian berikut ini.

    1. Kegiatan CSR di bidang pendidikan yang menjadi program utama Bank CIMB Niaga adalah Program Beasiswa. Program beasiswa diberikan kepada pelajar dari seluruh Indonesia yang memiliki prestasi gemilang di bidang akademis dan non akademis baik tingkat nasional maupun internasional, namun kurang beruntung dari sisi finansial.
    Program Beasiswa yang dilaksanakan meliputi :
    • Tingkat S1 adalah Beasiswa CIMB Niaga (Luar Negeri) dan Beasiswa Unggulan CIMB Niaga (Dalam Negeri)
    • Tingkat S2 adalah Beasiswa CIMB Niaga FEUI (Dalam Negeri) dan Beasiswa Khazanah Asia (Luar Negeri)
    • Tingkat S3 adalah Beasiswa CIMB Niaga FEUI (Dalam Negeri)

    Program Beasiswa CIMB Niaga untuk S1 (Luar Negeri)
    Salah satu kolaborasi program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilaksanakan Bank CIMB Niaga dengan CIMB Group yang merupakan mayoritas pemegang saham Bank CIMB Niaga di Malaysia adalah program beasiswa yang telah dilaksanakan sejak tahun 2008. Beasiswa diberikan bagi pelajar Indonesia yang berprestasi namun kurang beruntung dari sisi finansial untuk melanjutkan pendidikan S1 di Malaysia
    Program Beasiswa CIMB Niaga FEUI untuk S2 dan S3
    Program Beasiswa Bank CIMB Niaga FEUI merupakan kerjasama program beasiswa antara Bank CIMB Niaga dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) yang diberikan kepada karyawan Bank CIMB Niaga untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat S2 dan S3. Tahun 2009 penerima beasiswa untuk tingkat S2 adalah 6 orang dan S3 1 orang
    Program Beasiswa Khazanah Asia untuk S2
    Kerjasama program Corporate Social Responsibility (CSR) lainnya yang dilaksanakan Bank CIMB Niaga adalah dengan Khazanah Nasional Berhad melalui Yayasan Khazanah adalah Program Beasiswa Khazanah Asia. Beasiswa diberikan bagi warga negara Indonesia yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan S2 di Universitas di Malaysia. Untuk angkatan pertama di tahun 2009 ini, pemberian beasiswa diberikan kepada 1 orang untuk melanjutkan studinya dalam program Studi MBA di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)

    2. Pentingnya pendidikan bagi pemangku kepentingan yang terkait dengan penggunaan produk dan jasa perbankan juga menjadi perhatian yang sangat besar bagi Bank CIMB Niaga.
    Kegiatan edukasi masyarakat di bidang perbankan dilaksanakan dalam bentuk: Information Sharing, Customer Gathering, Kunjungan ke Bank, kunjungan ke sekolah, dan kegiatankomunikasi

    3. Infrastruktur pendidikan yang dibangun oleh Bank CIMB Niaga juga dilaksanakan dalam berbagai kegiatan seperti penyediaan buku-buku dan media baca, serta media kepada para pelajar untuk pengembangan diri melalui kegiatan menulis dan kepemimpinan bekerjasama dengan UNICEF

    4. Kegiatan pengembangan masyarakat dilaksanakan Bank CIMB Niaga tidak hanya di lingkungan tempat Bank CIMB Niaga beroperasi namun juga di lingkungan akademis. Bank CIMB Niaga melaksanakan kegiatan ini bekerjasama dengan CIMB Group

    5. Kegiatan CSR Bank CIMB Niaga tidak hanya prioritas di bidang pendidikan, namun juga dilaksanakan pada berbagai bidang seperti bidang kesehatan, keagamaan, serta ekonomi dan sosial.

    6. Bencana alam yang terjadi di Indonesia juga menjadi bagian dari perhatian Bank CIMB Niaga dalam kegiatan CSR-nya. Kegiatan yang dilaksanakan melibatkan berbagai pihak yaitu korporasi, group, karyawan, nasabah, Pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, akademisi, masyarakat, dan lain-lain baik dalam penyaluran dana bantuan maupun program sukarelawan.


    Referensi :
    http://id.wikipedia.org/wiki/Tanggung_jawab_sosial_perusahaan
    http://www.cimbniaga.com/docupl/2009AnnualReport-CSR.pdf
    http://www.tekmira.esdm.go.id/currentissues/?p=303

    Selasa, 02 November 2010

    Analisis Iklan Im3


    Jaringan telekomunikasi sekarang sudah banyak digunakan dalam kehidupan masyarakat modern. Seiring perkembangan jaman masyarakat sudah mulai menganggap handphone atau telepon genggam menjadi kebutuhan pokok lagi, karena dengan handphone atau telepon seluler mamusia bisa dengan mudah berkomunikasi, dan bisa kapan saja menghubungi orang terdekatnya. Seiring dengan digunakannya telepon seluler sehari-hari juga, banyak juga perusahaan-perusahaan yang menyediakan jasa atau sarana komunikasi atau yang biasanya kita sebut dengan perdana.

    Para perusahaan komunikasi berlomba-lomba memasang tarif murah atau tarif promosi dengan tujuan untuk memikat para konsumen agar menggunakan produk perusahaan telekomunikasi. Tawaran yang ditawarkan biasanya berupa bonus-bonus pulsa ataupun bonus sms. Akhir-akhir ini yang paling terbaru adalah perusahaan jasa telekomunikasi menawarkan tawaran terbarunya yaitu pulsa internet, kegunaan dari pulsa ini adalah untuk browsing melalui telepon seluler yang sudah memiliki GPRS. Misalnya untuk browsing Friendster, Facebook, Yahoo! Messenger, I-go, opera mini, maupun mig33. Akhir-akhir ini yang menjadi sorotan public adalah iklan milik perusahaan jasa telekomunikasi milik Indosat, yaitu iklan Im3 internet Rp. 1 per kb. Di dalam iklan ini banyak sekali simbol-simbol dan warna-warni yang ada dalam iklan indosat, tidak itu saja simbol-simbol juga digunakan dalam iklan ini, misalnya di dalam iklan ini ada seorang pria yang sedang liburan di pantai dan sedang berjemur sambil chatting dengan pulsa internet milik im3, kemudian di gambar tersebut ada ilustrasi bahwa cowok tersebut sedang browsing dengan i-go, opera mini, mig33, dan facebook. Karena diatas kepala cowok tersebut ada simbol atau pertanda dan petanda aplikasi browsing tersebut.
    Im3 Internet Rp. 1 per kb

    Dalam iklan im3 internet ini banyak sekali tanda-tanda atau simbol yang terdapat didalamnya, iklan ini bercerita bahwa kini pengguna Mentari dan IM3 dapat ber-internet ria lebih leluasa dengan Voucher Internet, voucher khusus dari Indosat yang pulsanya hanya bisa digunakan untuk akses internet/data. Voucher Internet Indosat ini adalah voucher internet pertama yang pernah ada di indonesia. Dengan Voucher Internet, surfing, browsing, downloading, uploading, e-mail, sampai chatting jadi lebih murah dan menyenangkan, cuma Rp 10/30 detik dengan kecepatan sampai dengan 256 Kbps!
    Saat ini Voucher Internet tersedia di outlet-outlet dalam bentuk elektronik dengan denominasi Rp 5.000 dan dapat digunakan untuk akses selama 250 menit/4 jam 10menit. Masa aktif pulsa 5 hari. Objek dalam iklan tersebut adalah simbol Indosat karena produk dari iklan ini adalah menawarkan kemudahan untuk browsing kemana saja dan kapan saja maka di dalam iklan ini terdapat banyak komponen-komponen yang diwakili oleh tanda, seorang cowok sedang memainkan handphone nya dengan browsing dengan beberapa aplikasi di pantai saat liburan. Cowok tersebut menggnakan aplikasi browsing seperti dalam gambar iklan, I-go, opera mini, mig33, dan yang terakhir adalah facebook. Dari keseluruhan tanda tersebut meskipun tidak disebutkan kegunaan dan nama dari aplikasi browsing tersebut kita akan bisa membacanya dan mengetahuinya, karena itu adalah merupakan sebuah tanda yang tidak akan ada yang pernah menyamainya dan tanda tersebut sudah menjadi hak paten.

    Senin, 11 Oktober 2010

    Budaya Kerja Perusahaan NetApp (Perusahaan Terbaik untuk Bekerja Tahun 2009 Versi Majalah Fortune)


    NetApp adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi, perusahaan ini didirikan pada tahun 1992. pada tahun 2009 perusahaan ini berhasil memuncaki daftar pertama dalam 100 Best Companies to Work For versi Majalah Fortune, menyingkirkan Google yang pada tahun sebelumnya ada pada peringkat pertama. Dengan jumlah karyawan FullTime (FTE) 5300, NetApp mampu membukukan revenue lebih dari 3 milyar USD (sekitar 30 trilyun). Perhatian pada lingkungan dan budaya kerja yang unggul membantu NetApp berada di peringkat teratas daftar 100 perusahaan tempat kerja terbaik tahun 2009.

    Komunikasi yang selaras. Kemampuan untuk berkomunikasi yang efektif adalah salah satu kunci keberhasilan NetApp. Setiap karyawan mendapatkan informasi secara baik mengenai perubahan maupun proyeksi secara periodik dari para manajer senior. Kit komunikasi berupa “Komunikasi efektif selama masa sulit” dikembangkan untuk menjadi sumber bagi para leader dan manajer. Dengan kit komunikasi ini, sebagai sumber untuk menjawab pertanyaan karyawan atau stakeholder, bagaimana melibatkan karyawan pada masa sulit dan merespons bersama untuk menghasilkan keputusan terbaik. Tujuannya agar karyawan merasa dilibatkan, didukung dalam memperoleh performa terbaik, serta mendapatkan pengertian dalam berbagai situasi bisnis.
    Kesederhanaan dan Kepercayaan. Ditiadakannya birokrasi berlebihan menyebabkan informasi mengalir lancar, input dan feedback diperoleh secara efektif, kesempatan inovasi, serta keputusan dapat diambil pada waktu tepat. Salah satu karyawan NetApp mengatakannya sebagai berikut : “ Hal yang paling mengesankan di sini adalah budaya pintu terbuka. Saya dapat dengan mudah menghubungi engineer dengan problem teknis, atau staff pemasaran produk dengan membawa ide baru serta siapapun di manajemen dengan segala pertanyaan. Perusahaan ini telah menghindari politik dan menghilangkan imperium kekuasaan serta memperkuat lingkungan kerja dimana kerjasama sangat diharapkan dan dihargai”. Hal yang sangat impresif bukan, jika karyawan anda mengatakan hal ini di luar?
    Merekrut dan menghargai yang terbaik. Untuk mendukung kontribusi karyawan, berbagai program dijalankan antara lain SHARE program, program insentif bagi karyawan yang berbagi pengetahuan (knowledge-sharing), TCE program, sebuah pengakuan perusahaan bagi karyawan atau tim kerja yang membuat perbedaan dan memberi pengaruh positif di hadapan customer perusahaan, serta NetApp patent program, sebuah insentif bagi karyawan pemegang paten senilai antara 5000 USD s/d 15000 USD. Selama tahun 2008, lebih dari 1 juta USD telah diberikan kepada 534 karyawan melalui patent reward program.
    Kesempatan untuk belajar. Sepanjang tahun 2008, lebih dari 26000 jam pelatihan diberikan.Setiap karyawan mesti melakukan inisiatif, melakukan self-assessment, mencari pelatih dan mentor, dan aktif mendaftarkan dalam berbagai program pelatihan. Komentar karyawan netApp : “ ..saya sebenarnya hanya seorang administrative assistant, tetapi manajer saya mendorong saya untuk selalu mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan untuk apa yang akan saya kerjakan dimasa depan. Saya pernah dikirim ke Virginia untuk mempelajari suatu platform website/produk software bersama tim lainnya sehingga kami dapat meningkatkan kualitas website internal kami. Ini benar-benar suatu kesempatan berharga dalam mempelajari hal yang baru, dan saya punya kesempatan untuk mengembangkan sayap kecil saya serta memimpin suatu tim..wow”
    Menghormati kontribusi karyawan. Mengenai kontribusi karyawan, gambaran dari karyawan netApp sangat merefleksikan apa kontribusi itu sebenarnya : “..Atmosfir kerja begitu positif, kreatif dan mendorong orang untuk bekerja lebih. Tak satupun yang memperhatikan saya harus di meja kerja atau memberi wajah aneh ketika saya pulang tepat waktu. Yang penting adalah tentang kinerja, dan pencapaian sasaran. Saya bangga bekerja disini”
    Melihat kenyataan diatas, tak heran bila NetApp menjadi perusahaan terbaik sebagai tempat bekerja di tahun 2009, karena perusahaan ini memiliki lingkungan dan bekerja yang sangat mendukung, sehingga karyawannya bisa memberikan kontribusi yang optimal. Oleh karena itu tidak ada salahnya bila perusahaan-perusahaan di Indonesia menerapkan konsep budaya bekerja seperti yang dimiliki oleh NetApp, karena budaya kerja yang mereka terapkan sangat baik, dan pantas untuk dicontoh

    Referensi :
    http://ilmusdm.wordpress.com/2009/08/24/belajar-dari-perusahaan-tempat-kerja-terbaik-2009/
    http://www.managementfile.com/column.php?sub=hr&id=1122&page=hr

    Senin, 04 Oktober 2010

    Adat Istiadat Sunda (Upacara Adat Perkawinan)




    Suku Sunda merupakan suku yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Suku Sunda adalah salah satu suku yang memiliki berbagai macam Adat istiadat. Sampai saat ini suku Sunda masih memelihara dan menghormati Adat istiadat yang diwariskan leluhurnya. Salah satunya adalah Adat istiadat dalam upacara perkawinan.

    Upacara perkawinan dapat dilaksanakan apabila telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam agama Islam, dan adat ketentuan tersebut adalah :
    * Adanya keinginan dari kedua calon mempelai tanpa ada paksaan
    * Harus ada wali nikah, yaitu ayah dari calon mempelai perempuan atau wakilnya yang sah
    * Ada ijab Kabul, saksi, dan, mas kawin
    * Akad nikah dipimpin seorang Penghulu atau Naib, yaitu pejabat Kantor Urusan Agama.

    Sehari sebelum acara perkawinan dimulai, dilakukan terlebih dahulu acara siraman terhadap kedua calon mempelai (secara terpisah) oleh kedua orang tua calon mempelai. Acara ini meliputi kegiatan; mandi kembang, berjalan diatas tujuh helai kain samping dan pengajian sebagai ugkapan permohonan keselamatan. Acara siraman ini dimaksudkan sebagai tanda kasih sayang orang tua yang terakhir khususnya dalam memandikannya karena setelah berkeluarga diserahkan kepada masing-masing. Acara sebelum hari pokok ini hampir sama untuk setiap daerahnya, baik acara Penganten jawa atau bahkan Sumatera.

    Upacara akad nikah biasanya dilaksanakan di Mesjid atau dirumah mempelai wanita. Adapun pelaksanaannya adalah kedua mempelai duduk bersanding diapit oleh orang tua kedua mempelai, mereka duduk berhadapan dengan penghulu yang di kanan kirinya didampingi oleh 2 orang saksi dan para undangan duduk berkeliling. Yang mengawinkan harus wali dari mempelai perempuan atau mewakilkan kepada penghulu. Kalimat menikahkan dari penghulu disebut ijab, sedang sambutan dari mempelai pria disebut qobul (kabul). Setelah dilakukan ijab-qobul dengan baik selanjutnya mempelai pria membacakan talek, yang bermakna ‘janji’ dan menandatangani surat nikah. Upacara diakhiri dengan penyerahan mas kawin dari mempelai pria kepada mempelai wanita.

    Setelah akad nikah selesai dilaksanakan, bagian-bagian acara adat yang biasa dilaksanakan meliputi; nincak endog (menginjak telur) yang maksudnya adalah bahwa si mempelai penganten itu akan memulai malam pertamanya dengan indah. Ketika melaksanakan malam pertama itu, si penganten harus benar-benar hati-hati dan tidak “grasa-grusu”, sehingga nantinya menghasilkan yang baik. Nincak elekan (menginjak semacam bamboo yang biasa dibuat suling) maksudnya hamper sama. Hanya saja ini disimbolkan kepada “wanita”, sedangkan telor, lebih disimbolkan kepada laki-laki.

    Selanjutnya, Meuleum Harupat (membakar segenggam yang berisi tujuh buah potongan lidi), maksudnya adalah membuang atau membakar sifat-sifat jelek yang ada pada diri manusia, seperti : iri, dengki, mudah tersinggung, pemarah, kikir, tamak dan sombong. Kemudian, Meupeuskeun kendi (memecahkan kendi), yang maknanya sama dengan akan melepasnya masa bujang dan gadis pada malam pertama.

    Setelah itu acara sawer, yaitu melemparkan barang-barang seperti, beras kuning, permen, dan uang recehan seraya dibarengi lagu-lagu yang berisi pepatah bagi pengantin. Beras kuning, permen dan uang recehan adalah symbol keduniaan yang harus dicari oleh khususnya pihak laki-laki dan dipelihara oleh pihak wanita (istri).

    Setelah sawer kemudian dilakukan acara buka panto (buka pintu) yang dimaksudkan pembelajaran kepada pengantin dalam hal tata krama di rumah antara suami dan isteri.

    Akhir dari acara adat pengantin sunda adalah acara “huap lingkung” yang berisi saling menyuapi dengan air minum, nasi kuning dan pabetot-betot bakakak (saling menarik ayam panggang) bagi yang dapat bagian terbesar dari ayam tersebut adalah pertanda akan mendapat rezeki yang banyak (jikalau diusahakan dengan baik). Pada acara huap lingkung inipun, dilakukan huap deudeuh dan huap geugeut yang artinya saling memberi sebagai tanda kasih sayang.

    Setelah hal-hal diatas selesai dilakukan, barulah acara hiburan seperti, organ tunggal, jaipongan, dangdutan, wayang golek, dan lainnya mulai digelar. Hiburan tersebut biasanya dilakukan sambil mengiringi para tamu undangan menyantap makanannya. Acara hiburan tersebut mungkin adalah acara yang paling ditunggu oleh para hadirin dan masyarakat sekitarnya yang memang sengaja datang untuk menyaksikan acara hiburan tersebut.

    Akan tetapi, tidak semua acara perkawinan di suku Sunda dilakukan secara adat, Pernikahan adat Sunda saat ini sudah lebih disederhanakan, sebagai akibat percampuran dengan ketentuan syariat Islam dan nilai-nilai kesederhanaan, atau bagi mereka yang keadaan eknominya kurang memadai pasti tidak akan melakukan adat pernikahan yang bertele-tele seperti diatas, karena jika kita lihat dari proses yang dilakukan dari sebelum dimulainya akad nikah sampai setelah akad nikah, mungkin tidak memerlukan biaya yang sedikit. Selain itu perlu diketahui juga bahwa acara adat tersebut bukan merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap masyarakat suku Sunda, karena acara adat tersebut hanya sekedar acara tambahan dan hiburan.

    Referensi :
    http://nanpunya.wordpress.com/2009/02/25/upacara-adat-sunda/
    http://oerangtasik.byethost3.com/?p=36